Sri Mulyani sebut inisiatif DSSI topang pembayaran utang negara miskin

Sri Mulyani sebut inisiatif DSSI topang pembayaran utang negara miskin

Ini adalah inisiatif untuk memberikan fasilitas relaksasi bagi pembayaran pinjaman negara-negara miskin

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan inisiatif debt  service suspensions initiative (DSSI) senilai 4, 9 miliar dolar AS, yang menjelma pembahasan dalam Forum G20 sanggup membantu pembayaran utang negara-negara miskin  terdampak COVID-19.

“Ini adalah inisiatif untuk memberikan fasilitas relaksasi bagi pembayaran utang negara-negara bapet, yang saat ini dihadapkan di kondisi ekonomi dan fiskalnya dengan sangat-sangat sulit, ” katanya  pada pernyataannya di Jakarta, Minggu.

Baca selalu: Pemimpin G20 berupaya bantu negara miskin pasca-COVID

Sri Mulyani menjelaskan rintisan yang telah didukung oleh IMF maupun Bank Dunia ini menyetujui adanya penundaan pembayaran utang sejumlah 4, 9 miliar dolar GANDAR agar negara yang berpendapatan hina memiliki ruang fiskal yang pas untuk bisa menangani pandemi.

“Lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia menyepakati buat memberikan relaksasi cicilan utang yang pada mulanya sampai akhir tahun 2020, kemudian diperpanjang hingga pertengahan tahun 2021, ” katanya.

Sri Mulyani mengatakan fokus ini muncul karena seluruh negara saat ini sedang berupaya mengumumkan berbagai kebijakan termasuk dalam fiskal maupun moneter serta regulasi pada sektor keuangan agar pandemi bisa terkendali dan perekonomian dapat balik pulih.

Selain tersebut, ia mengingatkan berbagai kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi agar tak ditarik terlalu dini dan langsung dijalankan sampai ekonomi benar-benar pulih secara kuat, meski banyak perekonomian di negara G20 sudah menunjukkan adanya pembalikan pada triwulan III-2020.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani juga menekankan pentingnya peranan lembaga multilateral dalam memberikan dukungan pendanaan bagi negara-negara berkembang atau negara miskin untuk mendapatkan vaksin karena akses ini sangat penting untuk mendukung pemulihan ekonomi

“Dalam diskusi menerjang financial track juga dibahas mengenai pembiayaan dari vaksin COVID-19 yang tetap memakan resources yang sangat besar. Pada hal ini dibahas mengenai bagaimana negara-negara terutama negara berkembang bisa mendapatkan akses vaksin, ” katanya.

Sebelumnya, KTT G20 yang berlangsung secara virtual mempertemukan para pemimpin dunia yang terlibat dalam G20 selama dua keadaan untuk membahas tentang upaya-upaya memajukan pemulihan global dari pandemi COVID-19.

Dalam sesi itu, kepala negara/pemerintahan G20 mendiskusikan melanggar upaya penanggulangan pandemi di bagian kesehatan dan pemulihan ekonomi global, termasuk pemulihan pasar tenaga kegiatan, perlindungan sosial, dan sistem keuangan global.

Selain itu, terdapat pembahasan mengenai perkembangan kemufakatan pada KTT sebelumnya, termasuk pertolongan debt suspension pada negara berpendapatan sedikit, serta penguatan sistem perdagangan multilateral.

Menyuarakan juga: Sri Mulyani ingatkan perkembangan konsolidasi fiskal-moneter pada 2021
Baca juga: WTO desak G20 tingkatkan pembiayaan perdagangan bagi negeri berkembang

Pewarta: Satyagraha
Editor: Liku Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020