rupiah-awal-pekan-melemah-obligasi-as-masih-jadi-perhatian-pasar-1

Rupiah awal pekan melemah, obligasi AS masih jadi mengindahkan pasar

Yield obligasi AS masih bakal jadi perhatian pasar sebab tidak ada antisipasi sebab The Fed dan kekhawatiran inflasi di AS

Jakarta (ANTARA) – Jumlah tukar (kurs) rupiah dengan ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan menyurut masih dibayangi imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS).

Pada pukul 9. 37 WIB, rupiah bergerak melemah 25 poin atau 0, 17 tip ke posisi Rp14. 433 per dolar AS dipadankan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14. 408 bagi dolar AS.

Yield obligasi AS masih akan jadi perhatian pasar karena tidak ada antisipasi dari The Fed serta kekhawatiran inflasi di GANDAR, ” kata Pengamat Rekan Uang Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova di Jakarta, Senin.

Baca pula: Rupiah Senin pagi menyurut 31 poin

Dolar Amerika menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan pekan lalu, mencapai tertinggi lebih dari kepala minggu, setelah bank pokok AS menyatakan tidak akan memperpanjang keringanan sementara persyaratan modal bank, yang memerosokkan imbal hasil obligasi negeri AS naik dari kelas terendah hari itu.

Bank sentral GANDAR, Federal Reserve (Fed), mengumumkan tidak memperpanjang aturan tatkala yang mengarahkan bank-bank mulia menahan lebih banyak modal untuk aset mereka, bagaikan obligasi pemerintah yang berakhirnya pada 31 Maret.

The Fed sudah memberlakukan aturan untuk membakar pinjaman bank ketika rumah tangga dan bisnis Amerika dirugikan oleh penguncian.

Indeks dolar terakhir terbang 0, 1 persen menjelma 91, 906. Indeks dolar turun tajam setelah pemberitahuan The Fed tentang kelakuan kebijakan longgarnya pada Rabu (17/3).

Baca juga: IHSG awal pekan terkoreksi, terlibat sentimen negatif global

Sedangkan imbal hasil obligasi GANDAR tenor 10 tahun naik pada Jumat (19/3)setelah keputusan The Fed tentang kaidah leverage (modal), tetapi bergeser di sore hari menjelma 1, 726 persen. Balasan hasil mencapai tertinggi di dalam lebih dari satu tahun di 1, 754 obat jerih pada sesi sebelumnya.

The Fed berkomitmen minggu ini untuk melanjutkan stimulus moneter yang bernafsu, mengatakan lonjakan inflasi masa pendek akan terbukti sementara di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi AS terkuat dalam hampir 40 tahun.

“Sementara itu sebab dalam negeri masih kurang sentimen positif bagi rupiah, ” ujar Rully.

Pada Jumat (18/3) lalu, rupiah ditutup bangkit 2 poin atau 0, 02 persen ke kedudukan Rp14. 408 per dolar AS dibandingkan posisi di penutupan perdagangan sebelumnya Rp14. 410.

Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat, dibayangi tingginya yield obligasi AS
 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021