presiden-minta-pemda-siapkan-pusat-isolasi-di-kelurahan-dan-rs-darurat-1

Pemimpin minta Pemda siapkan was-was isolasi di kelurahan dan RS darurat

Jakarta (ANTARA) – Pemimpin Joko Widodo meminta pemerintah daerah menyiapkan tempat isolasi terpusat di tingkat kelurahan atau kecamatan, dan membentuk rumah sakit cadangan atau darurat untuk melayani anak obat COVID-19.

“Penyiapan sendi isolasi, terutama untuk dengan bergejala ringan. Kalau mampu, ini sampai di level kelurahan atau desa, tersebut akan lebih baik. Kalau tidak, paling tidak, ada isolasi terpusat di tingkat kecamatan, terutama ini untuk kawasan-kawasan yang padat, utamanya di kota-kota, ini harus ada, ” kata Kepala dalam pengarahannya kepada besar daerah se-Indonesia yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Kepala yang dipantau di  Jakarta, Senin malam.

Penyiapan tempat-tempat isolasi terpusat untuk pasien COVID-19 bergejala ringan maupun tanpa gejala, kata presiden, merupakan satu diantara hal penting yang perlu dilakukan di daerah, pertama di wilayah padat warga.

Tanpa adanya tempat isolasi terpusat, katanya, kecepatan penularan COVID-19 di wilayah padat penduduk itu diyakini bisa terjadi semakin cepat dan masif.

“Karena cek lapangan yang saya lakukan untuk kawasan-kawasan padat, (rumah berukuran) 3 x 3 (meter) dihuni oleh empat orang. Saya kira ini kecepatan penularan akan sangat murni, kalau itu tidak disiapkan isolasi terpusat di kelurahan itu, atau paling tidak di kecamatan, ” ujarnya.

Selain itu, presiden juga meminta besar daerah untuk merencanakan serta menyiapkan rumah sakit wilayah, termasuk rumah sakit basi dan rumah sakit penting. Hal tersebut perlu dikerjakan untuk mengantisipasi potensi lonjakan pasien COVID-19 yang bisa menyebabkan tingkat keterisian rumah sakit penuh.

“Paling tidak kita memiliki, di dalam perencanaan tersebut, bagaimana kalau rumah lara itu penuh. Jangan (rumah sakit) sudah penuh terakhir menyiapkan. Akan terlambat, ” katanya.

Kepala juga meminta agar para kepala daerah rajin turun ke lapangan untuk mengatur langsung kondisi di lapangan, terutama menyangkut ketersediaan obat hingga kecukupan pasokan oksigen. Selain itu, para besar daerah juga diminta buat terus memantau tingkat keterisian rumah sakit.

“Saya lihat beberapa kawasan, rumah sakit masih memasang angka 20 atau 30 persen dari kemampuan tempat tidur yang ada. Lha ini bisa dinaikkan. Bisa 40 persen atau sesuai di DKI Jakarta sampai ke 50 (persen) dengan didedikasikan kepada (pasien) COVID-19. Ini kepala daerah kudu tahu, jadi kapasitas berapa dan harus diberikan pada (pasien) COVID-19 berapa. Jika tidak, nanti kelihatan vila sakitnya BOR-nya sudah luhur banget, padahal yang dipakai baru 20 persen. Banyak yang semacam itu, ” ujarnya.

Selanjutnya, Kepala Jokowi juga menyoroti soal percepatan belanja daerah serta percepatan bantuan sosial, terutama yang berkaitan dengan bantuan UMKM, dana bantuan sosial, dan Dana Desa. Berdasarkan data yang diterima kepala, anggaran UMKM untuk semesta daerah ada Rp13, 3 triliun, sementara yang tersalurkan baru Rp2, 3 triliun.

“Padahal kita sekarang ini butuh seluruhnya. Rakyat butuh sekali. Kaum menunggu. Sehingga saya menimbulkan ini agar segera dikeluarkan. Perlindungan sosial ada anggaran, di catatan saya, Rp12, 1 triliun. Realisasi pula baru Rp2, 3 triliun. Belum ada 20 tip semuanya. Padahal rakyat menunggu ini, ” ujarnya.

Demikian halnya secara Program Dana Desa dalam mana jumlah totalnya mencapai Rp72 triliun. Dari total tersebut, Rp28 triliun dipergunakan untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa. Tetapi realisasi yang sudah disalurkan mutakhir mencapai Rp5, 6 triliun atau kurang dari 25 persennya.

“Ini yang saya minta semuanya dipercepat. Sekali lagi, dengan kondisi seperti ini, percepatan anggaran sangat dinanti oleh masyarakat, ” katanya.

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021