muhammadiyah-sebut-pasien-covid-19-otg-tidak-wajib-puasa-1

Muhammadiyah sebut pasien COVID-19 OTG tidak wajib puasa

Puasa Ramadhan wajib dilakukan kecuali bagi orang yang sakit

Jakarta (ANTARA) – Pengurus Tengah Muhammadiyah menyatakan bahwa anak obat yang terkonfirmasi positif COVID-19, termasuk bagi yang tidak bergejala atau Orang Tanpa Gejala (OTG) tidak wajib menunaikan puasa.

“Puasa Ramadhan wajib dilakukan kecuali bagi orang yang melempem dan kondisi kekebalan tubuhnya tidak baik. Orang yang terkonfirmasi positif COVID-19, cantik bergejala dan tidak bergejala (OTG) masuk dalam klan orang yang sakit, ” tulis Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Haedar  menjelaskan hal itu tercantum dalam poin mula-mula dalam Surat Edaran PP Muhammadiyah tentang Ibadah Ramadhan 1442 Hijriah.

Selain pasien positif COVID-19, Muhammadiyah juga mengecualikan para tenaga kesehatan untuk wajib berpuasa.

Untuk menjaga kekebalan tubuh dan dalam rangka berhati-hati bertugas menjaga agar tidak tertular COVID-19, tenaga kesehatan mampu meninggalkan puasa Ramadhan secara ketentuan menggantinya setelah Ramadhan.

Baca juga: Ahli: Klub diminta tidak ragu vaksinasi COVID-19 saat berpuasa

Vaksinasi boleh dilakukan saat bertarak dan tidak membatalkan pertarakan karena diberikan tidak melalaikan mulut atau rongga awak lainnya, seperti hidung mengikuti tidak memuaskan keinginan & bukan merupakan zat makanan yang mengenyangkan.

Ada pun bagi klub yang di sekitar tempat tinggalnya terdapat penularan COVID-19, shalat berjamaah, baik shalat fardu, Shalat Jumat, maupun Shalat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing untuk menghindari penularan virus corona.

Namun, jika tidak ada penularan, shalat berjamaah dapat dilaksanakan di langgar, mushola, langgar atau wadah lainnya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Selain itu, kajian atau pengajian yang beriringan dengan kegiatan shalat berjamaah dapat dilakukan dengan mengurangi durasi periode agar tidak terlalu panjang dan tetap menerapkan adat kesehatan.

“Namun jika di wilayah tersebut ada kasus positif COVID-19, kajian atau pengajian sepantasnya dilakukan secara daring atau membagikan materi ke jamaah di rumah, ” logat Haedar Nashir.

Baca pula: Sejumlah desa di Pulau Ambon beribadah puasa bertambah awal

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021