Menko Perekonomian ungkap protokol kesehatan dalam "new normal"

Menko Perekonomian ungkap protokol kesehatan dalam “new normal”

Nanti era kondisi new normal tentu ana siapkan protokol kesehatan yang dilengkapi dengan kajian yang dilakukan

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pemimpin (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah sedang menyiapkan protokol pada berbagai bidang aktivitas masyarakat menjumpai new normal atau kenormalan baru pada kondisi pandemi COVID-19.

“Nanti saat kondisi new normal tentu saya siapkan protokol kesehatan yang dilengkapi dengan kajian yang dilakukan. Awak masih melihat lagi jadi belum ada sektor dan daerah yang ditetapkan untuk dilonggarkan dan pada dua minggu ini ditegaskan tak ada pelonggaran dan semua menduduki kajian yang dilakukan dalam besar minggu, ” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya di Jakarta, Senin.

Menko Perekonomian menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti rapat terbatas (ratas) secara tema “Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19” yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui konferensi virtual.

“Beberapa hal dengan dibahas adalah untuk membuat etika apa yang bisa mendorong & mengevaluasi kesiapan daerah atau bagian terkecil dari kabupaten atau tanah air (untuk pelonggaran PSBB), ” tambahan Airlangga Hartarto.

Baca juga: AP I siapkan pedoman kesehatan di situasi “new normal”

Pelonggaran itu nantinya hendak berdasarkan R0 atau reproduction number yaitu jumlah ekspektasi dari kasus ke-2 yang dihasilkan dari satu penanggung yang mempunyai kemampuan menularkan keburukan pada saat suatu penyakit merembes dalam sebuah populasi sehat semasa masa infeksi.

“Berdasarkan perhitungan R0 ini akan dihitung transmisi infeksi berdasarkan waktu, DKI sudah menggunakan formulasi ini & formulasi ini akan disiapkan Bappenas, kalau R0 lebih besar daripada 1 berarti infection rate relatif mulia, kalau kurang dari 1 telah bisa dibuka untuk normal gres, ” ungkap Airlangga Hartarto.

Misalnya kasus COVID-19 dalam suatu daerah yang memiliki R0 = 2, artinya 1 orang yang terkena COVID-19 berpotensi memindahkan virus ke 2 orang bugar lainnya. Dengan R0=2, jumlah orang yang terkena COVID-19 setelah 8 putaran jawabannya adalah akan tersedia 256 orang positif COVID-19 dan setelah 10 putaran, jumlah itu menjadi 2. 048 orang.

“Maka kami akan kembangkan sistem scoring dari sisi epidimologi, kesiapan daerah maupun kesiapan kelembagaan. Di dalam beberapa hari ini kami siapkan scoring yang dilakukan baik berdasarkan perkiraan epidimologi berbasis R0 maupun kesiapan daerah-daerah terkait perkembangan penyakit, penjagaan virus, kapasitas kesehatan, kesiapan zona publik di masing-masing kementerian & lembaga, tingkat kedisiplinan masyarakat, maupun respon publik mengenai bagaimana cara untuk bekerja atau cara bersosialisasi di kondisi normal baru, ” jelas Menko Perekonomian Airlangga.

Baca juga: KAI siapkan protokol antisipasi skenario “the new normal”

Pemerintah juga sudah menyiapkan 5 tingkatan kondisi daerah dan persyaratan daerah-daerah tersebut sanggup memulai kegiatan dengan kondisi biasa baru.

Tahap satu adalah krisis, artinya daerah tersebut belum siap, tahap 2 merupakan parah yang juga artinya kawasan tersebut belum siap, tahap 3 adalah substansial, tahap 4 merupakan moderat dan tahap 5 ialah rendah.

“Di Jawa Barat dan di daerah Jawa lainnya tidak ada di level paling parah. Level moderat adalah di mana daerah-daerah bersiap untuk bersiap standar normal baru, sebab karena itu beberapa sektor sedangkan menyiapkan standard operating and procedure yang akan dikoordinasikan dengan satgas COVID, ” ungkap Airlangga.

Normal baru sebagai standar baru kegiatan itu berlaku di bermacam-macam sektor misalnya industri, pendidikan, restoran, akomodasi, rumah ibadah, transportasi dan lainnya.

“Hal ini akan dibahas secara lebih terurai dan akan diputuskan oleh bapak Presiden dan kali ini kami diminta mengkaji secara teknis dan lengkap. Nanti setelah teknis cara dari daerah maupun sisi kesehatan dan kesiapan kementerian dan lembaga sudah ada akan kami sampaikan mengenai tahapan waktunya sesuai secara protokol COVID-19 namun ini memerlukan kedisiplinan masyarakat, ” tegas Airlangga.

Baca juga: Ini kata Menko Perekonomian mengapa harga gula mahal

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020