Menggeber janji kampanye Jokowi wujudkan Nusantara sentris

Menggeber janji kampanye Jokowi wujudkan Nusantara sentris

Jakarta (ANTARA) awut-awutan Pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin memiliki salah satu janji kampanye mewujudkan Indonesia sentris dalam lima tahun masa pemerintahannya 2019-2024.

Nusantara sentris memiliki makna pembangunan pecah dalam berbagai bidang di seluruh wilayah Indonesia.

Kalau selama ini pembangunan lebih banyak tampak di Pulau Jawa ataupun istilahnya Jawa sentris, maka dalam periode pemerintahan Jokowi pembangunan mau dipacu di seluruh wilayah Indonesia.

Tujuannya tidak lain untuk membangun Indonesia secara merembet, baik infrastrukturnya, sumber daya masyarakatnya, perekonomian-nya dan segala aspek lain dengan harapan menghilangkan kesenjangan antardaerah.

Salah satu upaya yang dilakukan Presiden dalam mewujudkan Indonesia sentris adalah membangun daripada pinggiran, dari desa, pulau terdepan hingga perbatasan.

Pada sambutannya pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-92, 28 Oktober 2020, Presiden mengajak segenap bangsa Nusantara bekerjasama membangun Indonesia secara betul dan merata.

Kepala mengatakan dengan pembangunan yang merata dan berkeadilan, maka masyarakat pada berbagai wilayah di Tanah Cairan akan merasa menjadi bagian dari Indonesia. Oleh karena itu pendirian infrastruktur terus dikerjakan oleh pemerintah untuk menciptakan konektivitas antara setiap wilayah di Indonesia.

Dengan demikian, kata Presiden, oleh karena itu masyarakat Papua, masyarakat Aceh & masyarakat Indonesia di berbagai wilayah akan merasa menjadi bagian, merasakan memiliki dan berkontribusi bagi Nusantara.

Persatuan, ujar Kepala, harus terus diperjuangkan dengan menilai perbedaan, menjaga toleransi, serta melestarikan keutuhan dan kedaulatan NKRI. Spirit solidaritas juga harus diutamakan untuk membantu satu sama lain.

Presiden menekankan peringatan Ikrar Pemuda membawa energi positif yang menyatukan persaingan dan perbedaan, minus harus membuat melupakan adanya masalah-masalah, kepentingan-kepentingan maupun tujuan-tujuan bersama.

Warisan Indonesia sentris

Juru cakap Presiden RI Fadjroel Rachman mengatakan Presiden RI Joko Widodo ingin memberikan legacy atau warisan Indonesia sentris ini pada akhir pemerintahannya pada tahun 2024.

Fadjroel mengatakan Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Menyetujui ingin memastikan pembangunan berjalan dalam segala sektor, hingga terwujud keadilan yang merata.

Tempat menekankan daerah pinggiran menjadi preferensi, misalnya, Papua, Papua Barat & wilayah Timur Indonesia serta pulau-pulau terdepan yang menjadi gerbang meresap Indonesia.

Menurut Fadjroel, keseriusan Presiden Joko Widodo melahirkan Indonesia sentris telah ditunjukkan semenjak awal pemerintahannya bersama Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin dengan menetapkan Wapres sebagai Ketua Dewan Instruktur Percepatan Pembangunan Papua.

Fadjroel menekankan ada banyak daerah tertinggal yang perlu dibangun tenteram konteks Indonesia sentris, agar tak terjadi kesenjangan.

Menurutnya, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur yang merata sangat penting karena secara ekonomi, Tanah Jawa memperoleh sekitar 55 persen kue pembangunan, dan Sumatera merebut 29 persen.

Dia mengatakan Jawa dan Sumatera telah mengambil sekitar 75-80 persen kue pembangunan. Selebihnya dibagi untuk Kalimantan hanya 8 persen, dan sisanya untuk Sulawesi, Maluku dan Papua.

Mengaji juga: Presiden: Ekonomi syariah miliki potensi besar untuk dikembangkan

Baca serupa: Presiden resmikan Stasiun TVRI pada Papua Barat

Dia menegaskan warisan Indonesia sentris yang dikehendaki Presiden adalah tidak dapat ada satu pulau pun dengan tertinggal, dan tidak boleh tersedia satu rakyat pun tertinggal. Pada istilah Bahasa Inggris, n o one left behind .

Dia mendahulukan, bagi Presiden Joko Widodo, Nusantara sentris bukan hanya pemerataan pembangunan fisik atau infrastruktur, tapi serupa pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah ingin memastikan pembangunan merata di semua wilayah.

Langkah nyata

Langkah-langkah nyata mewujudkan Indonesia sentris sejati-nya sudah dilakukan Presiden Joko Widodo sejak periode pertama pemerintahannya bersama Wapres RI Jusuf Kalla.

Berdasarkan catatan Capaian Kinerja Kementerian Perhubungan Kabinet Kegiatan Joko Widodo-Jusuf Kalla Periode Tarikh 2014–2019, terbukti bahwa Program Indonesia sentris yang dicanangkan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah membuka akses keterisolasian dan meningkatkan perekonomian daerah.

Dalam kurun waktu lima tahun periode pertama pemerintahan Joko Widodo bersama Jusuf Kalla, dikerjakan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia sentris untuk membuka keterisolasian, yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdahulu, Tertinggal dan Perbatasan).

Capaian kinerja periode pembangunan 2015 hingga 2018 cukup optimal, kejadian ini dapat dilihat dari 10 bandara baru yang selesai dibangun dan sudah dioperasionalkan. Dan ditambah target pembangunan lima bandara terakhir lagi pada 2019.

Tidak hanya itu, hingga tarikh 2019 pemerintah telah melakukan pelestarian dan pengembangan terhadap 127 bandara di wilayah perbatasan, lalu sebesar 290 di daerah rawan gangguan dan 242 bandara yang tersedia di daerah terisolasi.

Hal tersebut menunjukkan langkah jelas mewujudkan Indonesia sentris dari pinggiran.

Sementara itu di periode kedua pemerintahannya, Presiden Joko Widodo terus menggeber upayanya mewujudkan Indonesia sentris di tengah upaya melawan pandemik COVID-19.

Baca juga: Kepala: Pembangunan dari pinggiran, desa untuk Indonesia sentris

Baca juga: Setahun Jokowi-Ma’ruf, banyak aksi demi gaet relokasi investasi

Istilah umum baru menjadi kesepakatan untuk mempercepat pembangunan di segala sektor di tengah pandemik selain sebagai jalan memulihkan perekonomian.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan pendirian infrastruktur yang menjadi salah utama visi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di dalam periode 2019-2024, telah melanjutkan pertumbuhan stok infrastruktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mengalami kenaikan sebanyak 8 persen dibandingkan periode sebelumnya tahun 2015-2019.

Menurut Moeldoko, jika dalam tahun 2015 stok infrastruktur Nusantara sekitar 35 persen, maka di 2019 persentase-nya meningkat menjadi 43 persen.

Tetapi stok infrastruktur Indonesia itu masih jauh dari target infrastruktur global dengan secara rata-rata sebesar 70 komisi.

Selain itu, bea logistik Indonesia juga saat ini masih 23, 5 persen sebab PDB, atau tertinggi diantara negara2 Asia Tenggara. Moeldoko menegaskan ongkos logistik ini harus dipangkas.

Oleh karena itu, Negeri terus mempercepat ketersediaan infrastruktur konektivitas untuk menurunkan biaya logistik & memberikan kemudahan bagi rakyat menuju fasilitas sosial dasar.

Sepanjang satu tahun pemerintahannya bergandengan Ma’ruf Amin, Presiden Joko Widodo juga telah meresmikan sejumlah jalan tol antara lain Tol Pekanbaru-Dumai dan Tol Manado-Bitung ruas Manado-Danowudu.

Keberadaan tol gres akan menunjang produktivitas daerah meniti efisiensi dan efektivitas distribusi bahan. Di sisi lain langkah pemangkasan birokrasi yang berbelit juga menjelma cara Presiden mewujudkan pembangunan menyeluruh.

Oleh Rangga Membuktikan Asmara Jingga
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020