Jusuf Kalla jelaskan imbauan shalat Jumat bergelombang

Jusuf Kalla jelaskan imbauan shalat Jumat bergelombang

Jakarta (ANTARA) awut-awutan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI)  Jusuf Kalla  menjelaskan imbauan pelaksanaan ibadah shalat Jumat berdelan mengacu pada protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19, yang menerapkan jaga jarak antarumat, sehingga kapasitas masjid berkurang dari biasanya.

“Karena ketentuan jaga jarak itu minimal satu meter, berarti daya tampung masjid itu hanya maksimal 40 persen daripada kapasitas piawai. Akibatnya, banyak jamaah tidak tertampung, tidak bisa shalat Jumat, ” kata Jusuf Kalla  (JK) dalam Jakarta, Selasa.

Dengan situasi non-pandemi, JK mengatakan, situasi di masjid selalu penuh sebab jemaah setiap Jumat. Namun, dalam tengah pandemi COVID-19, umat diharuskan menjaga jarak fisik saat melaksanakan shalat Jumat di masjid.

Baca juga: DMI sebut kapasitas masjid 40 persen saat normal baru

“Dulu jamaah shalat Jumat membludak, tapi kerap. Kalau sekarang, jaraknya (harus) satu meter. Oleh karena itu, saya menganjurkan untuk shalat Jumat dijalankan dua kali atau dua gelombang atau dua shift. Itu bisa serta sesuai dengan fatwa Majelis Ustaz Indonesia (MUI) DKI Jakarta Tarikh 2001, ” kata JK dengan juga Ketua Umum Palang Abang Indonesia (PMI).

DMI menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 104/PP-DMI/A/V/2020 tertanggal 30 Mei 2020, yang berisi poin-poin terkait introduksi masjid setelah kebijakan pembatasan baik berskala besar (PSBB) selesai. SE tersebut mengacu pada SE Menteri Agama Nomor 15/2020 dan Masukan MUI Nomor 14 Tahun 2020.

Dalam SE DMI tersebut disebutkan untuk memenuhi keinginan jemaah dan dengan mempedomani arah syariah ( maqashidus-syari’ah ), pelaksanaan shalat Jumat diatur selain di masjid-masjid, juga di mushalla-mushalla dan tempat-tempat umum; serta bagi daerah-daerah yang padat warga, dilaksanakan shalat Jumat dua aliran.

Menyuarakan juga: Jusuf Kalla menyebut kenormalan baru sebagai harapan

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal MUI Pusat Anwar Abbas hendak mengusulkan ke Komisi Fatwa terpaut pelaksanaan shalat Jumat secara berdelan untuk mengurangi adanya kerumunan karakter dalam ibadah wajib mingguan itu.

“Saya akan mengantarkan kepada Komisi Fatwa MUI untuk mempelajari kemungkinan pelaksanaan shalat Jumat di tengah wabah COVID-19 ini dilakukan secara bergelombang, misalnya aliran pertama pukul 12. 00, kedua pukul 13. 30, dan ketiga pukul 14. 00, ” sebutan Anwar di Jakarta, Kamis (28/5).

Namun, Anwar Abbas kemudian menyatakan larangan terkait pengamalan shalat Jumat secara bergelombang, sebab secara syariah shalat Jumat tidak boleh dibagi dalam beberapa shift.

Baca juga: JK: Indonesia harus punya kontribusi saintis pengobatan COVID-19

“Alasan physical distancing tidak berpengaruh, karena kita bisa; dan dibolehkan oleh agama untuk menyelenggarakan shalat Jumat di luar masjid yang ada, seperti di musholla, aula, ruang pertemuan, sekolah atau bangunan-bangunan yang ada di sekitar masjid tersebut, yang kita ubah menjadi tempat shalat Jumat, ” introduksi Anwar di Jakarta, Selasa.

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020