BPS catat hampir seluruh lapangan usaha terkontraksi triwulan II 2020

BPS catat hampir seluruh lapangan usaha terkontraksi triwulan II 2020

Sektor  terdampak paling besar yakni transportasi dan pergudangan minus 30, 84 persen

Jakarta (ANTARA) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir seluruh lapangan usaha penyumbang produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi dan menjadi pengantara pertumbuhan ekonomi minus 5, 32 persen pada triwulan II 2020.

“Hampir seluruh lapangan usaha mengalami kontraksi, ” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Flash – BPS: ekonomi Indonesia triwulan II-2020 minus 5, 32 obat jerih

Suhariyanto mengatakan lapangan usaha yang menemui kontraksi dibandingkan periode sama tarikh 2019 antara lain industri pengolahan yang minus 6, 19 persen, perdagangan minus 7, 57 komisi, dan konstruksi minus 5, 39 persen.

Lapangan jalan lainnya yang ikut tumbuh negatif adalah pertambangan minus 2, 72 persen, administrasi pemerintahan minus 3, 11 persen dan sektor  terdampak paling besar yaitu transportasi serta pergudangan minus 30, 84 komisi.

Ia memastikan daerah lapangan usaha yang mengalami kemerosotan kinerja terimbas COVID-19 karena adanya penurunan aktivitas akibat berkurangnya suruhan dari masyarakat.

“Seperti industri pengolahan yang terkontraksi karena adanya penurunan pada produksi mobil dan sepeda motor yang lulus tajam, tekstil dan pakaian siap karena berkurangnya permintaan, serta rokok akibat PSBB, ” kata Suhariyanto.

Meski demikian, sedang ada sektor yang tumbuh positif dalam periode ini antara lain sektor pertanian 2, 19 komisi, informasi dan komunikasi 10, 88 persen, serta jasa keuangan satu, 03 persen.

“Sektor pertanian terutama tanaman pangan sedang tumbuh didorong oleh pergeseran musim tanam yang mengakibatkan puncak pengetaman padi terjadi pada triwulan II 2020, ” ujar Suhariyanto.

Sebelumnya, BPS mencatat terjadinya kontraksi dalam perekonomian Indonesia jadi tumbuh minus 5, 32 obat jerih pada triwulan II 2020.

Pertumbuhan ekonomi negatif tersebut merupakan yang pertama kalinya semenjak triwulan I 1999 sebesar kurang 6, 13 persen atau masa Indonesia mengalami krisis finansial.

Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2020 tercatat masih mencapai 2, 97 persen meski sudah mulai menunjukkan adanya perlambatan akibat pandemi COVID-19.

Baca juga: IHSG diprediksi bergerak terbatas seiring rilis pertumbuhan ekonomi
Baca juga: Rupiah menguat jelang rilis bukti pertumbuhan ekonomi kuartal II

Pewarta: Satyagraha
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020