sensus-penduduk

BPS batalkan rencana survei sensus penduduk tatap muka

Tidak ada tatap muka pada 2020 akan tetapi nanti pada 2021 akan saya ambil sample karena pertanyaan bertambah komplit

Jakarta (ANTARA) porakporanda Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pihaknya membatalkan survei sensus penduduk secara tatap depan yang rencananya dilakukan pada Mei 2020 akibat adanya pandemi COVID-19.

Suhariyanto menyebutkan survei tersebut sebenarnya sempat diputuskan untuk diundur hingga September 2020 namun terdesak dibatalkan karena BPS juga pantas melakukan efisiensi anggaran sebesar 41 persen.

“Ada keefisienan anggaran BPS sebesar 41 komisi maka pada tahun ini kita tidak lagi melakukan tatap muka, ” katanya dalam Raker bersama-sama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu.

Oleh sebab itu, Suhariyanto mengatakan BPS akan melibatkan ketua RT di seluruh Indonesia yang berjumlah satu, 2 juta untuk mendistribusikan kuisoner ke masing-masing keluarga.

“Tidak ada tatap muka di 2020 tapi nanti pada 2021 akan kami ambil sample karena pertanyaan lebih komplit, ” ujarnya.

Suhariyanto menegaskan meski ada kebijakan social distancing namun BPS tetap berkomitmen untuk menerbitkan data strategis pada rangka melihat besaran dampak COVID-19 terhadap ekonomi dan sosial.

Ia menuturkan sebagian besar dari data tersebut diambil meniti telefon dan email namun tetap ada beberapa data yang harus terjun langsung ke lapangan semacam terkait produksi padi.

“Tetapi saya sudah pesan ke lapangan agar tetap harus menanggapi ketentuan yang ada, ” katanya.

Sementara itu, dia menyebutkan sebanyak 42 juta karakter telah terdaftar dalam sensus warga online hingga 5 Mei 2020 yang digagas pihaknya untuk pertama kalinya di Indonesia.

“Sensus penduduk online sebagai informasi sampai kemarin yang sudah berpartisipasi adalah 42 juta orang, ” katanya.

Suhariyanto mengatakan meski total itu meningkat dibanding 14 April 2020 yakni 38, 84 juta jiwa namun angka tersebut sedang 15 persen dari total warga Indonesia sebanyak 260 juta karakter.

“Kalau dilihat angkanya memang agak besar tapi jika dilihat persentase nya BPS masih harus terus berupaya karena itu baru 15 persen dari mutlak penduduk Indonesia, ” katanya.

Sebagai informasi, BPS memperpanjang batas waktu pelaksanaan cacah jiwa 2020 via online akibat pandemi COVID-19 yakni yang semula ditetapkan sejak 15 Juli-31 Maret kini diperpanjang menjadi sampai 29 Mei 2020.

Baca serupa: BPS sebut 41, 77 juta penduduk tercatat ikut sensus penduduk online
Baca juga: Cacah jiwa Online diperpanjang hingga 29 Mei

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © JARANG 2020